Friday, November 10, 2017

Merekam Kesedihan

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Aku sering diberitahu bahwa kita tidak perlu memberitahukan masalah atau kesedihan kita kepada orang lain karena self-pity bukanlah hal yang baik untuk dibagi. Selain hal tersebut tidak membawa hal baik bagi orang lain, hal tersebut juga merusak citra diri kita sebagai orang yang senantiasa tidak bersyukur hanya karena satu atau dua cobaan...

Ada masa dimana aku setuju dengan pendapat tersebut dan akhirnya berhenti membagi terlalu banyak kesedihan ku kepada siapapun. Aku juga berhenti menulis keresahanku di blog atau social media, karena aku perduli dengan citra diriku, dan aku tidak ingin membagi sesuatu yang hanya meresahkan orang lain atau membuat kesal orang lain.

Aku menyadari suatu perubahan seiring dengan diriku yang semakin menutup diri dari orang lain. Ketika aku menengok kembali ke sebuah kertas berisi kesan dan pesan dari teman-teman SMP-SMA ku, ada keceriaan, sosok yang selalu bawel, penuh semangat, dan berani menggapai tantangan di diriku yang lama. Kemudian ketika aku membaca kesan dari teman-temanku yang sekarang, aku hampir tak melihat sisi-sisi tersebut di dalamnya. Aku berubah. 

Apakah ini adalah perubahan yang baik? Aku tidak tahu. Tapi, aku tahu bahwa rasa sakit di dalam diriku terus membesar seiring dengan diriku yang tak pernah berbagi pada siapapun lagi. Oleh karena itu, menuliskannya di dalam blog terkadang memberikan suatu kelegaan, kebebasan, karena aku dapat mengeluarkan beban hatiku. Namun, aku akhirnya juga berhenti menulis karena aku memikirkan citra diri di mata orang lain. Betapa bodohnya.

Padahal dengan menuliskan keresahan dan kesedihankulah, aku jadi mampu melihat masalahku dari sudut pandang yang baru. Melalui menulis, aku dapat melihat hal positif dari kesedihan seperti apapun. Padahal dengan membaca rekaman kesedihan yang pernah kualami, aku dapat lebih bersyukur karena mampu melewatinya. Aku mungkin akan terus bertemu dengan kesedihan selama aku memiliki penyakit ini. Tapi, aku juga akan selalu mengingat masa dimana aku mampu mengalahkannya. 

Aku tidak bisa kembali ke diriku yang lama. Aku sudah terjerumus jauh ke dalam duniaku sendiri, dimana aku tak lagi mampu mengizinkan siapapun dengan mudah memasukinya. Tapi, jika aku bisa perlahan mengurangi beban dalam hatiku dengan menuliskannya, maka itulah yang akan kulakukan. Aku tak perduli lagi dengan pendapat orang. Self-pity isn't cool nor bring good to others. I agree. Tapi, menulis dan merekam kesedihan bukanlah self-pity. Ia adalah self-healing, self-encouragement, hal yang membuatku merasa lebih baik. Ini adalah hidupku dan setiap orang memiliki caranya untuk mengatasi kesedihan. Bagiku, merekam kesedihan, menulis keresahan, adalah hal yang dapat memberikan penyembuhan dan membuatku mempelajari kesedihanku dengan lebih baik.

Wassalamualaikum, Wr. Wb.

Monday, November 6, 2017

Jobless + Social Anxiety

Putus asa karena uang adalah hal yang sepertinya sangat sering terjadi di dalam kehidupan ku. Ini adalah pelajaran bahwa menabung selagi muda itu penting, dan mengasah skill agar dapat memiliki nilai di dunia pekerjaan adalah kewajiban untuk bisa bertahan hidup. Hal-hal yang sepertinya cukup sulit bagi diriku pribadi karena aku sangatlah average, in everything I do, even when I try to do my best at it. Oleh karena itulah, masalah pendapatan dan pekerjaan menjadi salah satu masalah yang sangat krusial bagiku. Terutama ketika aku memiliki social anxiety yang tinggi dan sisi introvert yang kuat, hal tersebut seringkali menjadi penyebab aku tak bisa sepenuhnya menjalani pekerjaanku dengan baik. Selalu ada ketakutan dan keraguan, dan tekanan untuk bisa bersikap sama asiknya dengan yang lain. Bukan pertama kalinya aku diberitahu untuk bisa lebih banyak bicara dan bergaul

Uang adalah sumber kebahagiaan sekaligus sumber kesengsaraan di dunia ini. Bagi mereka yang berkecukupan, uang adalah hal yang dapat memenuhi tidak hanya kebutuhan, tapi juga keinginan. Bagi mereka yang kekurangan, uang adalah keajaiban karena jarang ia dapat memenuhi keinginan, dan begitu bersyukur ketika ia dapat memenuhi kebutuhan.

Hidup dalam keadaan dimana aku belum memiliki pekerjaan tetap, sedangkan pengeluaran semakin membengkak, kadang membuatku merasa putus asa. Aneh memang. Aku justru memiliki pekerjaan dengan gaji tetap ketika keluarga ku dulu memiliki pondasi keuangan yang kuat. Sekarang, ketika keluarga ku sedang sangat membutuhkan support materialistik, aku justru belum bisa membantu banyak. Ibuku memutuskan untuk membangun rumah karena kami sudah tidak boleh tinggal di rumah keluarga besar, ditambah membayar cicilan mobil yang rencananya digunakan untuk usaha Transportasi Online, namun ternyata tidak mudah menemukan orang yang jujur dan rajin dalam bekerjasama. Hanya Ibu dan Kakakku yang sekarang memiliki pendapatan tetap untuk membantu mengurus segala pengeluaran. Aku paling hanya bisa menyumbang tidak ada setengah persen nya.

Mencari pekerjaan di Jakarta sungguh bukanlah hal yang mudah bagi seseorang dengan social anxiety seperti aku. Kadang aku bahkan tidak berani menagih gaji yang menjadi hak ku dari seorang boss freelance hanya karena rasa tidak enak. Terdengar bodoh bagi kebanyakan, namun inilah yang namanya social anxiety, rasa takut terhadap hal-hal yang tidak perlu begitu menumpuk di dalam diri, dan tak banyak yang memahami hal itu. Yang mereka tahu adalah, "Pemalu dan pendiam itu nggak asik buat kerjasama atau nongkrong bareng." And even I agree with them. Aku merasa seandainya aku tidak punya penyakit ini dan sifat ini, mungkin segalanya akan jauh lebih mudah. 

Mungkin aku harus sekolah kepribadian. Mungkin aku harus tinggal di hutan. Mungkin aku harus jual ginjal. Pikiran-pikiran seperti itu terus saja menghantuiku. Kadang aku berpikir, manusia tidak akan pernah ingin dilahirkan ke dunia kalau tahu susahnya seperti ini. Tapi, hey, aku sudah terlahir. Paling tidak aku harus bisa bertahan hidup. Meski sedikit. Meski perlahan. Meski semua terlihat sia-sia, selama napas itu masih ada, berarti Yang Kuasa masih percaya, kalau kamu bisa. Jika Ia percaya sudah cukup untuk dirimu mempercayai dirimu sendiri, bukan?

Yah, aku merasa dalam tulisan penuh keputusasaan ini, aku paling tidak harus tetap memasukkan pesan positif. Meski sesungguhnya, hati ini masih dipenuhi kesedihan karena merasa tidak mampu. Tapi semoga orang yang membaca dapat mempelajari sesuatu dan tidak menjadi seperti aku. Punya social anxiety itu nggak enak, tidak ada yang istimewa dari memiliki penyakit mental, you fight with yourself everyday and sometimes you can no longer tell what's bad or good. Minimnya pemahaman masyarakat terhadapnya juga menyebabkan tindak bullying yang tidak disadari. Jadi, jangan sampai kamu, temanmu, anakmu, saudaramu, terperangkap di dalamnya. 



Saturday, October 21, 2017

Rantai dan Teman Lama

Kadang aku merasa… sepertinya masa lalu memasang sebuah rantai yang besar di kakiku sehingga sangat sulit untuk melangkah dan pergi meninggalkannya. Kenangan akan 7 tahun lalu masih terus membuatku menitikkan air mata. Aku masih terus dibayangi oleh kata-kata “Seandainya…”

Memasuki usia 25 tahun, seakan waktu ingin memburuku agar menyegerakan segala hal. Menikah. Bekerja. Menikah. Bekerja. Menikah. Menikah. Menikah…. Sambil ia menjabarkan segala alasan logisnya tentang kenapa aku harus menyegerakan semua hal ini. Bagi seorang introvert dengan social anxiety sepertiku, sebuah pondasi dalam hubungan menjadi sangat penting. Seberapa dalam aku mengenal pasanganku adalah hal yang sangat aku butuhkan dalam melangkah lebih jauh. Kencan buta bukanlah suatu opsi. Apalagi dijodohkan. Tapi sekitarku terus saja menyodorkan aku semua itu dengan harapan aku akan segera dipinang.

Aku berterima kasih atas kepedulian mereka ingin mencarikan aku pasangan hidup, namun tidak mereka ketahui bahwa tak banyak orang yang cukup bersedia untuk bersabar dalam mengenal seseorang dengan social anxiety sepertiku. Rasa panik, malu, takut memberikan kesan buruk, dan tidak percaya diri selalu memenuhi diriku sehingga pada pertemuan pertama, kedua, ketiga... aku tidak mampu membuka diri pada orang-orang baru, sedangkan aku hidup dalam dunia dimana kalau kita tidak bisa bersikap ‘asik’ dan berbicara seperti MC pada lawan bicara kita, maka orang tidak akan tertarik. Yang mana hal tersebut bukanlah salah mereka. Siapa sih yang mau punya teman yang terlalu pendiam dan kurang asik diajak ngobrol, yang selalu sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Apalagi pasangan…

Oleh karena itu, aku sangat berterima kasih pada sahabat-sahabat dan teman-temanku yang bersedia memahami dan menerimaku hingga sekarang. Adalah sebuah perjalanan yang panjang bagiku unuk akhirnya dapat memanggil mereka 'teman'. Bagiku, teman sangatlah berharga karena ada sebuah pondasi yang kuat yang membangun hubungan itu. Dan aku sangat berharap, jika aku memang akan menikah, aku akan menikah dengan seseorang yang dapat menjadi temanku, bukan sekedar pasanganku. Teman yang dapat membuat kami dapat menjadi diri kami, dimana kami dapat dengan nyaman berbagi kekurangan dan kelebihan kami, dan mau bekerja sama untuk menjadi lebih baik.

Sayangnya, aku pernah memiliki hubungan yang seperti itu, hubungan yang kemudian harus berakhir bukan karena pertengkaran ataupun permusuhan, ia hanya berakhir begitu saja. Bisa jadi inilah yang dinamakan tidak jodoh. Dan setiap kali aku ingin mencoba membuka hati, rantai masa lalu tersebut seakan menahanku dan menarikku kembali ke masa terindah itu. Lalu, hati ini pun akan mengunci dirinya dan mengurungku di dalamnya bersama teman lamaku itu. Teman yang sekarang mungkin sudah bergerak maju dengan kehidupannya, tanpa tahu bahwa aku masih terjerat di belakang, kesulitan melupakan. 

Tuesday, May 23, 2017

Two Voices

There are two voices inside of my head. They argued everyday, telling me what's right and wrong. They criticized all of the things I've done. Lately, those voices sound even louder than they used to be. Whenever I'm not talking with someone, these voices will make conversations by themselves, most of the time, they never agreed with each other. This is not an imaginary friend, it is clearly just two voices. I'll give you a little example of how these voices talk to each other inside of my mind. They usually commented on everything that just happened to me.

Example: My Lecturer gave me a hard time in college and I was so depressed and have no idea how to deal with it.

Voice 1: Ugh, don't be a wimp. You know you deserved it!
Voice 2: Well, maybe that lecturer didn't have to be so harsh on her. What's wrong with giving a helping hand for their students?
Voice 1: What's wrong? He is not your parents nor your friends. He wouldn't care even if you kill yourself.
Voice 2: But he's a teacher... 
Voice 1: And you're an adult.
Voice 2: What?
Voice 1 : It means you have to be strong to endure any hardships, so maybe that's why he gave you that.
Voice 2: But she already has enough hardships without that lecturer had to be so rude and...
Voice 1: He wouldn't know and he wouldn't care! You're not his kid. He doesn't give a damn about your existence.
Voice 2: You're right, but it is his duty to help students...
Voice 1: Yeah right, no one cares about duty now, just bear with it or kill yourself...
Voice 2: No, dear, Denisa, don't worry. There will be a way...
Voice 1: There won't be. You should help yourself. This world isn't nice
Voice 2: But it doesn't mean you have to lose your kindness...
Voice 1: People need money, not kindness
Voice 2 : ....

And I would hit my head after that because these conversation in my head just seemed to have no end. I literally laughed in irony or cringed sometimes when I heard some of those opinions, tho, like... I'm feel like I'm getting insane. I don't know if it's healthy or not, or is it happen with others? Like you really listen to other voices, but at the same time, you know that you're not really a part of it, but those voices are within your head, so it means they're your own thoughts, but as the same time you know it isn't you, or it is too rude and bitchy (that voice 1 always talks like a senior who loves to bully other), or too kind, to be you. 

You know what I mean?

There was an error in this gadget