Saturday, May 21, 2016

Love Yourself?

The thing that I hate about myself is:

I always feel like people might get annoyed with me, ever since I was a kid. Although it has something to do with some childhood terrible experiences, the trauma lives within me until now. And the worst thing is when I sense that the person whom I used to call a good friend is no longer see me as their friend. And I wouldn't dare to ask him or her why. I would just accept his sudden coldness towards me and decided to leave for good without properly saying goodbye.

Talking about a goodbye, that's also one of the things where I'm worst at. I've cut ties with few people without words because it was simply too hurt for me, and I left certain places without a proper parting words. I couldn't bring myself to do that like others can normally do. I have these weird feelings that people might will be annoyed and they wouldn't careless. Again, because I'm probably thinking about other's opinion too much, I ended up ignoring them and let them think of me as careless and quiet person so I don't have to explain myself. In the end, I'm so used with it that I truly become careless of my surroundings.

I guess if I were born as someone else, I would hate this version of me, and again, because I couldn't love myself enough, I'm feel like no one else would.

Wednesday, May 11, 2016

Ada Apa dengan Cinta 2


Entah darimana harus memulai, tapi ada sesuatu di film ini yang membuat saya begitu tersentuh dan menjadi addicted. Padahal saya tidak fanatik sama sekali dengan film pertamanya. Tapi, sesuatu dalam film ini membuat saya menontonnya hingga 3x berturut-turut, dan saya masih tetap mendapatkan kesan yang mendalam setiap kali. Ada Apa dengan Film ini?

Saat Ada Apa Dengan Cinta (2002) tayang, saya masih duduk di bangku SD, dan saya baru benar-benar memahami film pertamanya setelah saya berada di bangku kuliah, dan sejujurnya, saya merasa AADC adalah kisah romansa SMA yang sangat sederhana, hanya saja kisah ini menjadi berbeda karena ada balutan puisi-puisi indah dan soundtrack yang sangat berkesan. Kisah yang agak aneh sebenarnya, ketika dua pujangga dengan karakter yang jauh berbeda, saling jatuh cinta karena sama-sama menyukai puisi? And not to mention that they were only 17? Isn't that a little bit unusual? Saya pernah menonton film yang memiliki alasan jatuh cinta yang lebih kuat dari ini, tapi toh, hal yang tidak biasa ini malah meninggalkan kesan mendalam. 

Ada sesuatu dalam setiap karya Riri Riza yang selalu berhasil menyentuh sanubari, bahkan dari karya yang sangat sederhana sekalipun. Mungkin karena saya selalu jatuh cinta dengan kisah si introvert yang mencair oleh kehadiran seorang ekstrovert. Mungkin karena saya pun juga menyukai puisi. Dan mungkin karena chemistry Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra yang begitu natural sehingga saya tidak seperti menonton dua orang berakting. Namun, cukup berkesan saja tidak menjadikan AADC (2002) menjadi film favorit yang saya tonton berkali-kali, meski saya akui beberapa adegan iconic-nya terus saya ulang kalau lagi iseng, seperti saat Cinta membawakan puisi Rangga di cafe, atau saat perpisahan kedua insan ini di Bandara. Lagi-lagi, Riri Riza mampu menghadirkan adegan yang sederhana menjadi terlihat luar biasa indah.

Ada Apa dengan Cinta 2
"Karena seorang Rangga, rusak move on Sebelangga..."

Saya lupa membaca komentar ini dimana, tapi ini cukup mewakilkan cerita AADC 2, in hilarious way LOL. Film ke dua setelah 14 tahun ini pastinya diantisipasi oleh masyarakat luas yang menantikan kelanjutan kisah Rangga dan Cinta, dengan ekspektasi yang tinggi, karena itu menjadi sebuah kejutan ketika saya mendapatkan film ini justru dihadirkan dengan cerita yang ringan dan cara yang begitu sederhana, namun entah bagaimana, luar biasa berkesan.

Berbahaya dan sangat beresiko sebenarnya, untuk menjadikan sequel dari sebuah film fenomenal yang ditunggu banyak orang ini menjadi kisah yang sederhana, karena orang-orang mengharapkan kisah yang lebih dramatis dan lebih banyak twists menegangkan dan, kalau yang saya baca dari beberapa komentar, mereka berharap film ini bisa dibuat lebih menyedihkan. Lalu, bagaimana bisa, sebuah kesederhanaan cerita dalam film ke dua ini justru meninggalkan kesan yang mendalam? Again, it's Riri Riza's magical hands who managed to do it. I guess when he told his Laskar Pelangi fellas to go to film school to know how to make a good movie, he really mean it. Bukan berarti orang-orang yang membuat film dan belajar secara otodidak tidak lebih baik dibanding mereka yang bersekolah film, tapi dalam karya Riri Riza dan Mira Lesmana yang merupakan lulusan Institut Kesenian Jakarta, saya selalu menemukan hal yang berbeda dan memiliki makna tersembunyi, dibanding film-film lain. Riri membuktikan bahwa dari sebuah kesederhanaan pun, kita masih tetap bisa membuat film yang bagus dan bermakna.

Puisi Rangga
Puisi masih menjadi daya tarik utama. Jaman sekarang, saat segala hal yang terlalu 'puitis' dianggap cheesy atau gombal, kata-kata sastra nan indah kembali menjadi sesuatu yang mahal di film ini. Puisi-puisi karya M. Aan Mansyur yang dibawakan dengan suara dalam dan khas Nicholas Saputra sukses membuat siapa saja yang mendengarnya merinding. Tidak hanya itu, bahkan AADC 2 benar-benar merilis buku kumpulan puisi dan foto Rangga dengan judul "Tidak Ada New York" hari ini. Bukan hanya memajukan perfilman Indonesia, tapi juga menyumbang karya dalam dunia sastra dan mengangkat kembali keindahan kata-kata sebagai sesuatu yang membanggakan.

Pasangan Legendaris milik Indonesia
Kalau Hollywood punya Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet, Bollywood punya Shah Rukh Khan dan Kajool, maka Indonesia punya Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Pasangan on screen legendaris yang memiliki chemistry nyata dan natural saat berada di satu film. 14 tahun berselang setelah film pertama, tapi karakter dan chemistry mereka tetap kuat, saya seperti tidak menonton dua orang berakting, saking naturalnya interaksi keduanya di film ini. Tidak heran kalau penonton dibuat senyum-senyum sendiri seperti Cinta yang tidak bisa menyembunyikan sumringahnya saat bersama Rangga. Tidak perlu banyak adegan romantis, keduanya mampu membuat penonton terkesima hanya dengan melihat keduanya saling tersenyum.

Konflik yang Realistis
14 tahun bukan periode yang singkat dalam fase hidup seseorang. Persahabatan SMA yang mengalami naik turun dan menjalani hidup masing-masing pun adalah hal yang lumrah sehingga ketika genk Cinta tidak mampu ada saat Karmen mengalami konflik dalam pernikahannya yang menyebabkan Karmen sempat memakai drugs pun sangat dipahami.

Alasan Rangga meninggalkan Cinta banyak dinilai sebagai pengecut dan lemah, saya pun mengakui hal ini. Why didn't he tried harder? Why did he gave up? Tapi, mungkin, hanya orang-orang yang juga pernah mengalami titik dimana dia memutuskan untuk menyerah sebelum akhirnya bangkit lagi yang cukup mau atau bisa memahami ketakutan Rangga. Pemuda penyendiri yang dari kecil harus menerima ayahnya menjadi cemoohan orang-orang, ditinggal ibunya dan saudara-saudaranya, lalu ditinggalkan ayahnya dan harus hidup sendiri di negeri orang. Some people are lucky enough to be able to be strong all their lives, but it's not a shame when someone has to face cruel reality and became weak at one point of his life. I felt pity for Rangga and found myself teared up a bit when I found out his true reasons to leave Cinta, simply because he didn't have confidence on himself. Man, that's sad, really.


9 tahun pun bukan periode yang sebentar untuk seseorang move on dari patah hati pertamanya. Lalu, kenapa Cinta begitu lemah, hanya dengan waktu yang sangat singkat, semua perasaannya pada Rangga kembali lagi? Apa yang dilakukannya 9 tahun ini? Mungkin ini yang dinamakan jodoh, atau kebodohan. Entahlah, tapi kita semua tahu bahwa AADC memang tentang Rangga dan Cinta, maka jika kisah ini dipusatkan pada perasaan mereka, ini seharusnya bukan hal yang aneh. It took me 5 years to be completely over my first love, and I still have soft spot for him for some reasons. So, 9 years is not long enough actually. 

"Jika ada seseorang yang terlanjur menyentuh inti jantungmu
Mereka yang datang kemudian hanya mampu menyentuh kemungkinan.."

Berdamai dengan masa lalu, bukan berarti melupakan masa lalu. Ia selalu bisa menjadi pelajaran berharga. Ia bahkan bisa menjadi masa depan. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Karmen yang berhasil lepas dari narkoba. Rangga yang memutuskan untuk memaafkan dan berdamai dengan ibunya. Dan Cinta yang tak pernah mau kalah pada logika, namun selalu mengikuti kata hatinya pada akhirnya. 

Pesan yang sederhana. Film yang sederhana. Namun bagi saya pribadi, kesan yang ditinggalkan lebih dari sederhana. Ada sinematografi yang indah, kesenian yang unik, dan kecintaan terhadap kopi disana. Hanya beberapa nilai tambah untuk saya yang juga penikmat seni dan kopi. When it comes to phenomenal, I know I can always trust Riri Riza and Mira Lesmana.
There was an error in this gadget