Sunday, February 28, 2016

Mr. Wordless

Hari ini aku menggali lubang masa lalu yang telah kukubur dalam-dalam. Hanya karena sebuah lagu lama yang menjadi teman kisah kita selama beberapa tahun itu. Lalu, aku kembali jatuh cinta. Apakah padamu? Ataukah hanya pada kenangan akan dirimu? Yang aku tau, kamu adalah salah satu dari kisah favoritku. 

Boleh aku sedikit bernostalgia? Bercerita tentangmu? Sudah lima tahun sejak terakhir kita bertemu, tak sedikitpun bayangan tentangmu menghantuiku seperti hari ini. Aneh bukan, hanya karena sebuah lagu, aku membuka kembali sejarah lama yang masih tersimpan rapi itu, entah bagaimana bisa ia masih ada. Lalu, kamu tau apa yang terjadi? Aku menangis. Aku menangis begitu saja, seolah semua yang ada di masa itu kembali kepadaku. Tawa itu. Canda itu. Ledekan itu. Dan tanda-tanda itu. 

Saat itu kamu adalah orang yang terkenal, digemari banyak orang. Lalu, kita bertemu, dan kita berfoto berdua untuk pertama dan terakhir kalinya. Aku hanya satu dari ribuan orang yang mengagumi kamu, lalu bagaimana bisa takdir membawaku pada sebuah pertemanan, denganmu, meski hanya melalui dunia maya. Bagaimana bisa, setelah dari sekian banyak wanita yang menyapamu, hanya aku yang kamu tawarkan persahabatan? 

Saat itu aku hanya pemimpi, penuh khayal, bagiku kamu begitu tinggi, tak terjangkau, karena itu ketika kamu memberikan ku lebih dari apa yang aku khayalkan, aku merasa seperti dongeng telah menjadi nyata dalam kehidupanku. Kamu adalah seseorang, sedangkan aku hanya bayangan, tapi kamu melihatku, dan menjadikan aku penting, atau paling tidak membuatku merasa begitu.

Ada jarak yang jauh, hanya melalui telepon, YM, SMS, BBM, twitter, dan social media, kita berbicara setiap hari, hampir sepanjang waktu. Kamu memanggilku dengan sebutan itu begitupun aku. Kita saling mencari saat satu sama lain tak bisa dijangkau, saling meledek, saling berbagi kisah, dan akhirnya aku kembali menemuimu lagi, ke tempatmu tinggal, ke negeri impian itu, dimana semua mimpi menjadi nyata. 

Kamu bersama orang lain, begitupun aku, tapi apa yang kita lakukan. Kita jahat, kita saling peduli dan mencari cara untuk tetap bisa berkomunikasi dalam rahasia, tanpa perlu menyakiti orang yang menyayangi kita. Tapi, pada akhirnya kita menyakiti mereka. Kita saling menjauh. Lalu, kamu datang lagi. Kamu berada begitu dekat denganku, lebih dari sebelumnya. Dan kita, bertemu lagi. Berbicara lagi. 

Lalu, semua berakhir. Kita menyudahinya tanpa ada perpisahan. Tanpa ada penjelasan, apakah senyuman dan pembicaraan setiap hari kita selama 3 tahun itu adalah tanda yang kamu kirimkan? Apakah pernah dalam sehari saja, kamu merasakan debaran yang kurasakan terhadapmu? Apakah pernah terbersit sedikit saja dalam benakmu, tentang keberadaanku? Apakah dalam canda dan ledekan yang kamu kirimkan nyaris setiap detik itu, ada sedikit saja rasa untukku?

Kamu menghilang dari hidupku, begitupun aku menghilang dari hidupmu, setelah hampir 3,5 tahun kamu mengisinya. Tak ada satu hari pun dalam hidupku tanpa pesan darimu saat itu. Apa yang terjadi? Aku tidak tahu, mungkin itu memang waktu yang tepat, untuk aku mengakhiri apa yang selama ini menjadi khayalanku, dan melepaskanmu, yang ternyata akan selamanya terlalu tinggi untuk kuraih. 

Aku merindukanmu, mungkin bukan dirimu, tapi kenangan tentangmu. Kenangan yang sangat berharga bagiku, dimana aku belajar menjadi manusia yang lebih baik kala itu, dan bahkan berprestasi di sekolah dan bisa meraih PTN, itu semua kamu yang menjadi motivasinya. Kamu mungkin tidak tahu, dan tak akan pernah tahu. Tapi, aku ingin berterimakasih. Atas segala yang terjadi, atas waktu yang kamu berikan, atas pertemanan yang kamu tawarkan. Kamu mengubah hidupku kala itu, dan semoga dimanapun kamu sekarang, kamu menjalaninya dengan baik tanpa kekurangan suatu apapun.

Terimakasih ya, Anak Kecil. Merkuriusku. Mr. Wordless-ku.
Terimakasih pernah membuat khayalanku menjadi kenyataan.

1 komentar:

Post a Comment

There was an error in this gadget