Tuesday, January 6, 2015

Umroh Pertama - Keberangkatan

Awalnya Tak Benar-Benar Ingin....
Ketika diputuskan bahwa aku, kakak, dan adik akan berangkat umroh, I wouldn't say I was excited. I was like... "Oh, we're going for umroh? Ok then that's fine with me." I was not a very religious person and I didn't prepare anything for this journey. I didn't feel like I'm ready for this, karena sudah beberapa kali mendengar kisah orang-orang yang kena 'karma'-nya begitu mereka sampai di Tanah Haram sana. Aku teringat akan banyaknya dosa dan jujur jadi kurang bersemangat awalnya karena takut dengan karma yang akan aku dapat. Meski begitu, jiwaku sesungguhnya memang sedang penuh kegelisahan karena berbagai masalah dan kegagalan di tahun 2014 yang tiada habisnya dari awal hingga akhir, ditambah berbagai penyakit yang aku alami sepanjang tahun. Mungkin saking lelahnya jiwa ini, ia tergerak untuk kembali mengetuk pintu Tuhan-nya tanpa raga ini menyadarinya. Niat yang muncul di otakku adalah untuk menghilangkan stress dan travelling, bukan mendekatkan diri pada Allah SWT... tapi siapa yang tahu bahwa niat dari alam bawah sadarku bukanlah untuk itu.

Jadi, aku berangkat tanpa mencoba membaca-baca dulu tentang umroh dan sebagainya karena berpikir, akan ada pembimbingnya dan toh aku akan jalan-jalan disana. 'Kan bukan Haji, jadi dibawa santai sajalah.. Pikirku saat itu. :")

di Bandara Soekarno Hatta, sebelum keberangkatan

Begitu sampai di Bandara King Abdul Azis, Jeddah, entah bagaimana air mata menetes begitu saja, seolah ada kedamaian dan rasa bersyukur yang baru kurasakan saat itu. Tak percaya, bagaimana aku bisa disini, padahal aku tak pernah benar-benar memintanya sebelumnya. Tak bisa dibohongi, jiwa kita lebih merindukan Tuhannya, dan kadang akal sehat ini menutupinya dengan berbagai emosi duniawi dan masalah yang sebenarnya hanya ujian, lalu kita lupa akan fitrah sebagai manusia. :")


Tanah Haram Madinah 
Kita langsung menuju kota Madinah, perjalanan di malam hari melewati gurun pasir dan padang tandus luas selama 4-5 jam, namun pemandangan luar biasa di langit malam di atas padang pasir membuatku berucap pujian kepada Allah SWT berkali-kali. For the first time in forever, I saw so many stars, dengan sinar yang begitu terang dan jelas, jumlahnya pun terlihat 5x lebih banyak dari langit malam di Jakarta ketika cerah. Masha Allah... 


Sampai di Madinah kurang lebih 2 jam sebelum adzan Shubuh, dengan suhu sekitar yang sangat dingin, karena ini penghujung Desember dan Madinah sedang ada di puncak musim dingin. Kesan pertama adalah, kota ini tenang dan rapi. Banyak hotel dan pedagang, tapi tidak terkesan bingar, seperti menggambarkan sisi kelembutan Nabi Muhammad SAW yang indah, tenang, sederhana, dan menyejukkan.


Ujian untuk kami Semua
Cobaan pertama dimulai. Hotel tempat kami menginap tidak sesuai ekspektasi karena agen travel yang kami pakai ditipu oleh agen dari Saudi Arabia dan tumpuk tindih namanya dengan agen Travel lain, sehingga kita mendapatkan hotel yang tidak memiliki kamar mandi di setiap kamarnya, sungguh tidak sesuai dengan biaya yang telah dikeluarkan. Bagi aku dan saudara-saudaraku, hal ini tak jadi masalah, namun kasihan untuk para orang-orang tua yang sudah membayar mahal. Katanya hotel Bintang Tiga, tapi lebih seperti losmen.

Semua anggota umroh yang sekelompok denganku adalah orang-orang kalangan menengah ke atas, mereka terbiasa dengan fasilitas bintang 4 minimal, karena itu mungkin agak mengagetkan mendapat hotel yang lebih seperti losmen. Tapi, betapa hebatnya orang-orang ini, mereka adalah orang-orang sukses yang rendah hati, meski penipuan ini tetap harus diadukan kepada pemilik travel kami agar lebih berhati-hati dalam bekerja sama nantinya, tetap saja para orang tua ini menerima keadaan dengan baik, ikhlas, dan menikmatinya.

"Kita disini untuk beribadah, bukan liburan. Hotel ini cuma jadi sarana tidur kalau malam saja toh... Nikmati saja. Alhamdulillah.." kata Bapak Siwi, seorang Komandan Kapal TNI Indonesia yang ikut travel umroh ini. Dia tak banyak bicara meski pangkatnya tinggi, tapi sekalinya bicara begitu menyejukkan. :")

Aku pun sekamar dengan 3 ibu-ibu, salah seorang bernama Ibu Zabidah, sudah lanjut usia dan kesan pertama yang kudapat darinya adalah: galak, kurang asik didekati, dan membuatku agak ngeri, tapi dua ibu lainnya, Bu Anita dan Bu Febby, sangatlah baik dan selalu mengingatkanku untuk maklum kalau ada yang kurang berkenan dari sikap Bu Zabidah. Aku pribadi yang awalnya berniat untuk menjaga jarak dengan para strangers sih fine-fine aja, toh akan jarang ketemu ibu-ibu ini. Pikirku saat itu. But I didn't know then that destiny would change my plan.

To be continue...

1 komentar:

Edward Edmirald said...

sedikit terharu dan terinspirasi dari penggalan cerita terakhir ""Kita disini untuk beribadah, bukan liburan. Hotel ini cuma jadi sarana tidur kalau malam saja toh... Nikmati saja. Alhamdulillah.." kata Bapak Siwi, seorang Komandan Kapal TNI Indonesia"..

Post a Comment

There was an error in this gadget