Thursday, January 8, 2015

Kota Madinah, Merpati Aisyah, Exhibition Nama-Nama Allah


Kota Madinah
Berada di kota Madinah, kota tempat tinggal Rasulullah SAW, kata ustad yang menjadi pembimbing kami, kita belajar untuk menjadi tetangga Rasulullah SAW yang baik. Maka segala tindak dan tingkah laku pun harus kita jaga sesuai dengan sikap Rasulullah SAW, termasuk dari cara berpakaian dan berkomunikasi dengan orang lain. Memang benar, orang-orang di Madinah rasanya terkesan lebih lembut dan ramah dibanding di Mekkah.


Kota Madinah rapi dan bersih. Berjalan-jalan di sekitar Madinah dari pagi hingga sore hari selalu terasa menyenangkan dan menyegarkan, udara dingin namun disinari matahari yang hangat membuat kita merasa nyaman dan selalu ingin berada di luar untuk menjelajahi sekitar. Saking banyaknya orang Indonesia yang melakukan Umroh dan Haji, pedagang disana pun cukup fasih berbahasa Indonesia. Tak perlu kita repot-repot mencoba berkomunikasi dengan bahasa Inggris saat ingin bertransaksi untuk belanja, semua pedagang mengerti bahasa Indonesia dengan baik selama hal itu berhubungan dengan jual-beli. Beberapa bahkan mempromosikan baju yang mereka jual sebagai, "baju Syahrini.."!!


Katanya, awal mula burung-burung yang tersebar di Madinah dan Mekkah ini berasa dari sepasang merpati milik Siti Aisyah. Kemudian, seiring waktu, ia terus berkembang biak dan akhirnya jumlahnya semakin banyak dan tersebar di seluruh tanah haram Madinah dan Mekkah. Anehnya, meskipun jumlahnya begitu banyak, tapi kotoran mereka tidak tersebar dan membuat jalanan kotor. Kotoran mereka lebih banyak terlihat di mobil-mobil milik masyarakat setempat, tapi tak satupun ada di jalanan. Paling tidak begitu yang aku lihat :P


The Beautiful Names of Allah

Di dekat Masjidil Nabawi, terdapat sebuah pameran tentang nama-nama Allah SWT, dimana setiap nama berisi penjelasan dan ilustrasi berupa lukisan, miniatur planet-planet, ataupun video-video yang menunjukkan kebesaran Illahi. Memberikan penggambaran yang lebih jelas tentang kekuasaan Allah SWT dan nama-namanya.


Berada di Madinah, tidak heran jika ini menjadi kota hijrah Rasululllah SAW. Aura dan keadaan disini bahkan hingga sekarang pun begitu menenangkan dan memberi kesan magis yang kuat. Selain itu, pemandangan gunung-gunung batu dan pasir di sekitar kita juga sangat membawa kita pada masa lalu, seolah kita dibawa ke masa-masa perjuangan Rasulullah SAW saat menyiarkan agama Islam. Paling enak datang ke Madinah saat musim dingin, karena suhunya sangat pas untuk kita. Sinar matahari tetap terik menghangatkan, tapi tidak membuat kita kepanasan. :)

To be continue

Tuesday, January 6, 2015

Masjidil Nabawi

Masjidil Nabawi

Pada hari pertama, aku yang masih berada dalam masa haid hari terakhir mengira takkan bisa ikut sholat Shubuh di Masjid Nabawi, tapi karena kamar mandi di Hotel penuh, aku ikut bersama ibu-ibu sekamar untuk ke Masjid, niatnya numpang mandi wajib. Tepat saat yang lain bersiap untuk sholat karena adzan sudah berkumandang, aku malah sibuk mandi dengan santai dan mengira akan menyusul sholatnya. Ternyata begitu aku selesai mandi, sholat berjamaah belum dimulai karena selang waktu antara adzan dengan iqomat jaraknya jauh sehingga memungkinkan jemaah untuk sholat sunnah beberapa kali. Masha Allah... aku masih diberi kesempatan untuk sholat berjamaah ternyata :") Melihat keindahan Masjid Nabawi, jiwaku tak bisa mengelak, berada di dalamnya memang seolah jarak antara kita dengan Sang Khalik menjadi 1000x lebih dekat, dan ada ketenangan yang luar biasa disana. It felt magical, indeed.


Berada di Madinah, seolah ada magnet yang menarik kita untuk terus kembali ke Masjidil Nabawi. Padahal sebelumnya, aku hampir tidak pernah browsing tentang bangunan Masjid ini, jadi segala keindahannya benar-benar menjadi kejutan yang menyenangkan bagiku. Bukan hanya keindahan bangunannya, tapi juga keindahan aura yang terpancar di sekitar Mesjid, terasa menyejukkan dan menenangkan. Menghabiskan sisa waktu di Masjid pun menjadi sesuatu yang sangat nyaman untuk dilakukan. Dan karena ini Masjid, maka yang kita lakukan untuk mengisi waktu pun tak jauh-jauh dari ibadah. Kalau bosan sedikit, membuka Al-Quran dan membacanya, atau sholat sunnah, dan menjaga diri dari pembicaraan yang kurang bermanfaat. Seolah setting dalam diriku ditata ulang dan aku merasa diperbaharui setiap kali berada disana.



Di Masjid ini, para Jamaah biasanya sudah stand by di Mesjid minimal satu jam sebelum sholat wajib untuk mencuri tempat yang paling nyaman atau dekat dengan makam Rasulullah. Jadi, bukannya adzan yang menunggu kita, tapi kitalah yang menunggu adzan. Padahal awalnya kukira aku hanya akan ke Mesjid untuk sholat wajib saja, ternyata setelah berada disana, memang tidak mungkin untuk tidak merasa betah di Masjid-nya Rasulullah SAW ini. Tidak jarang aku menyelinap dari hotel sendirian untuk pergi ke Mesjid Nabawi, alhamdulillah jaraknya cukup dekat dengan berjalan kaki, jadi bisa sesuka hati kesana.. :")


Raudhah
 

Pagi harinya, kami melakukan raudhah, yaitu ziarah ke makam Rasullullah SAW, dan kedua Sahabatnya, Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Aku pun terpisah dari rombonganku karena jemaah begitu penuh, dan aku bermodalkan buku tuntunan yang kupegang memberanikan diri untuk lanjut melakukan raudhah, sambil mencuri dengar petunjuk dari ustadzah tim lain di sekitarku. Alhamdulillah, cukup untuk membimbingku berhasil melakukan raudhah sendiri. Antusiasme dan semangat untuk melihat makam Nabi Munammad SAW begitu besar, meski agak berbahaya karena orang-orang harus menggencet kanan kirinya atau tak sengaja menyandung orang yang sedang sholat sunnah di depan makam Nabi SAW. Padahal sudah ada di buku tuntunan, "jika menyakiti orang lain, sebaiknya jangan memaksakan diri mendekati bangunan makam, masuk wilayah raudhah dan sholat sunnah sudah cukup." Meski sebagian besar isinya orang paruh baya, mereka tetap berebut masuk dengan hebohnya. Dimaklumi memang karena mungkin kerinduan akan Nabi Muhammad SAW sudah begitu besar, tapi alangkah baiknya kalau orang-orang yang raudhah bisa lebih memikirkan orang-orang sekitarnya dan menjaga keselamatan satu sama lain. :")

To be continue...

Umroh Pertama - Keberangkatan

Awalnya Tak Benar-Benar Ingin....
Ketika diputuskan bahwa aku, kakak, dan adik akan berangkat umroh, I wouldn't say I was excited. I was like... "Oh, we're going for umroh? Ok then that's fine with me." I was not a very religious person and I didn't prepare anything for this journey. I didn't feel like I'm ready for this, karena sudah beberapa kali mendengar kisah orang-orang yang kena 'karma'-nya begitu mereka sampai di Tanah Haram sana. Aku teringat akan banyaknya dosa dan jujur jadi kurang bersemangat awalnya karena takut dengan karma yang akan aku dapat. Meski begitu, jiwaku sesungguhnya memang sedang penuh kegelisahan karena berbagai masalah dan kegagalan di tahun 2014 yang tiada habisnya dari awal hingga akhir, ditambah berbagai penyakit yang aku alami sepanjang tahun. Mungkin saking lelahnya jiwa ini, ia tergerak untuk kembali mengetuk pintu Tuhan-nya tanpa raga ini menyadarinya. Niat yang muncul di otakku adalah untuk menghilangkan stress dan travelling, bukan mendekatkan diri pada Allah SWT... tapi siapa yang tahu bahwa niat dari alam bawah sadarku bukanlah untuk itu.

Jadi, aku berangkat tanpa mencoba membaca-baca dulu tentang umroh dan sebagainya karena berpikir, akan ada pembimbingnya dan toh aku akan jalan-jalan disana. 'Kan bukan Haji, jadi dibawa santai sajalah.. Pikirku saat itu. :")

di Bandara Soekarno Hatta, sebelum keberangkatan

Begitu sampai di Bandara King Abdul Azis, Jeddah, entah bagaimana air mata menetes begitu saja, seolah ada kedamaian dan rasa bersyukur yang baru kurasakan saat itu. Tak percaya, bagaimana aku bisa disini, padahal aku tak pernah benar-benar memintanya sebelumnya. Tak bisa dibohongi, jiwa kita lebih merindukan Tuhannya, dan kadang akal sehat ini menutupinya dengan berbagai emosi duniawi dan masalah yang sebenarnya hanya ujian, lalu kita lupa akan fitrah sebagai manusia. :")


Tanah Haram Madinah 
Kita langsung menuju kota Madinah, perjalanan di malam hari melewati gurun pasir dan padang tandus luas selama 4-5 jam, namun pemandangan luar biasa di langit malam di atas padang pasir membuatku berucap pujian kepada Allah SWT berkali-kali. For the first time in forever, I saw so many stars, dengan sinar yang begitu terang dan jelas, jumlahnya pun terlihat 5x lebih banyak dari langit malam di Jakarta ketika cerah. Masha Allah... 


Sampai di Madinah kurang lebih 2 jam sebelum adzan Shubuh, dengan suhu sekitar yang sangat dingin, karena ini penghujung Desember dan Madinah sedang ada di puncak musim dingin. Kesan pertama adalah, kota ini tenang dan rapi. Banyak hotel dan pedagang, tapi tidak terkesan bingar, seperti menggambarkan sisi kelembutan Nabi Muhammad SAW yang indah, tenang, sederhana, dan menyejukkan.


Ujian untuk kami Semua
Cobaan pertama dimulai. Hotel tempat kami menginap tidak sesuai ekspektasi karena agen travel yang kami pakai ditipu oleh agen dari Saudi Arabia dan tumpuk tindih namanya dengan agen Travel lain, sehingga kita mendapatkan hotel yang tidak memiliki kamar mandi di setiap kamarnya, sungguh tidak sesuai dengan biaya yang telah dikeluarkan. Bagi aku dan saudara-saudaraku, hal ini tak jadi masalah, namun kasihan untuk para orang-orang tua yang sudah membayar mahal. Katanya hotel Bintang Tiga, tapi lebih seperti losmen.

Semua anggota umroh yang sekelompok denganku adalah orang-orang kalangan menengah ke atas, mereka terbiasa dengan fasilitas bintang 4 minimal, karena itu mungkin agak mengagetkan mendapat hotel yang lebih seperti losmen. Tapi, betapa hebatnya orang-orang ini, mereka adalah orang-orang sukses yang rendah hati, meski penipuan ini tetap harus diadukan kepada pemilik travel kami agar lebih berhati-hati dalam bekerja sama nantinya, tetap saja para orang tua ini menerima keadaan dengan baik, ikhlas, dan menikmatinya.

"Kita disini untuk beribadah, bukan liburan. Hotel ini cuma jadi sarana tidur kalau malam saja toh... Nikmati saja. Alhamdulillah.." kata Bapak Siwi, seorang Komandan Kapal TNI Indonesia yang ikut travel umroh ini. Dia tak banyak bicara meski pangkatnya tinggi, tapi sekalinya bicara begitu menyejukkan. :")

Aku pun sekamar dengan 3 ibu-ibu, salah seorang bernama Ibu Zabidah, sudah lanjut usia dan kesan pertama yang kudapat darinya adalah: galak, kurang asik didekati, dan membuatku agak ngeri, tapi dua ibu lainnya, Bu Anita dan Bu Febby, sangatlah baik dan selalu mengingatkanku untuk maklum kalau ada yang kurang berkenan dari sikap Bu Zabidah. Aku pribadi yang awalnya berniat untuk menjaga jarak dengan para strangers sih fine-fine aja, toh akan jarang ketemu ibu-ibu ini. Pikirku saat itu. But I didn't know then that destiny would change my plan.

To be continue...

Thursday, January 1, 2015

Love at the First Sight


Love sparks in the beginning of the most wonderful journey
It was love at the first sight, something I never believed before
You are perfect in your imperfection and I'm captivated
Then, I started walking behind you, watching you lead all of us

I still remember everything about you, even more clearly now
I remember what you wore on the first day we met
I remember the gentle voice of yours when you call out my name
I remember the warm feeling I get whenever I see your smile

The moment when I'm walking beside you
The moment when you're sitting beside me
The moment when we're playfully smirking towards each other 
The moment when we coincidentally got stuck together

You didn't know, because this is just my another one-sided love over again
You didn't know, because you're just too sincere and kind to everyone
You didn't know, because to you, maybe love is only illussion
You didn't know, because you focus your love to God only

We probably will never have continuation of what has never been started
I will probably be the one who thinks of you the most
You will most likely move on with your life and find your loved one
We're probably going back on being strangers

But meeting you is one of the happiest things in my life
It was too short, the time we spent together
But the feelings which grow within me is even bigger than before
I never thought that love could spark in such a short period

You are special that you make it possible to fall in love at the first sight
You are special because you make me wants to make myself better
You are special because your existence reminds me of God
You are special because of the way you are

I don't know what to call this writing, it's not poetry I guess. But I feel the need to let out my feelings. Mekkah and Madinah knows how much I ask and apologize to God because of that overwhelmed feelings I had. This is dedicated to you, the owner of the pen I have now. I hope I will have the chance to return it to you. We're going back to our normal lives, but you will always be special. I will eventually move on, but you will remain as one of the strongest memories in my heart. I will always be grateful because I had the chance to feel your kindness and got to know you. I know from the start that this will be my one-sided love again, because you are just too good to be true, and I'm grateful to meet you... :")
There was an error in this gadget