Tuesday, June 3, 2014

Obat yang Sesungguhnya


Sudah sebulan berjalan sejak kedua pergelangan kaki saya sakit. Awalnya karena salah urat, kemudian saya biarkan saja selama seminggu hingga akhirnya semakin parah. Karena tidak tahan dengan rasa sakit itu, Saya memutuskan untuk ke tukang urut. Saya kira kaki saya akhirnya akan sembuh, tapi tidak berapa lama setelah itu, kedua kaki saya kembali sakit. Entah saya lagi-lagi ceroboh hingga salah uratnya kembali parah, atau memang pijit yang sebelumnya kurang berhasil.

Kemudian, saya mengadukan keluh kesah kepada Papa yang memang merupakan salah satu tempat terbaik untuk saya berbagi. Jawaban Papa sederhana,

"Mungkin Ade lupa untuk meminta pertolongan Allah terlebih dahulu dan sibuk memikirkan obat dan cara lain..."

Papa mulai bercerita kejadian saat dia terserang sakit perut yang sangat parah di tengah perjalanan. Saat itu, perutnya terasa ditusuk-tusuk seolah ada angin yang mencoba keluar, namun tertahan. Yang dipikirkan Papa pertama kali adalah obat apa yang harus segera dibeli atau jamu apa yang ampuh untuk menghilangkan sakit perut itu. Sambil terus menahan sakit, pikiran Papa sibuk memikirkan berbagai macam obat dan jamu hingga akhirnya Beliau tersentak sendiri, seharusnya Allah menjadi pertolongan pertama yang ia pikirkan.

Tersadar akan kelalaiannya, Papa segera beristighfar sebanyak 20x dengan penuh kesungguhan, kemudian membaca bismillah dan La haula wala Quwwata illa billah sambil mengusap perutnya yang sakit. Tidak sampai lima menit, rasa sakit di perutnya hilang seolah tak pernah terjadi. Subhanallah.

Setelah bercerita itu, Papa meraih pergelangan kaki kiri saya dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya pada perutnya yang sakit, dan tak berapa lama, sakit di kaki kiri saya perlahan berkurang, meski masih ada sisa-sisanya, tapi dibanding kaki kanan saya yang memang dibiarkan saja (karena saya tidak bilang kalau kaki itu juga sakit), kaki kiri saya terasa jauh lebih nyaman untuk bergerak. 

"Harus benar-benar yakin akan kuasa Allah dan berserah diri dengan penuh kepadanya kalau mau metode ini berhasil..." kata Papa setelah selesai. "Kalau kita hanya berdoa tanpa keyakinan yang kuat akan kuasanya, ya tidak akan ada yang berubah."

Saya memilih percaya bahwa kuasa Allah itu melampaui batas pikir manusia. Apalagi ketika Hambanya telah meminta dengan sungguh-sungguh dan memberikan usaha yang sungguh-sungguh. Ia Maha Pengasih dan Penyayang, bukan tidak mungkin baginya memutar balikan segala sesuatu. Ini bukan pertama kalinya juga saya merasakan keajaiban yang sama, sebelumnya pernah saya tulis disini http://denisaroseno.blogspot.com/2013/09/allah-mengalikan-sedekah-papa-10x.html

Dari sini saya belajar bahwa bukan hal-hal duniawi lah yang dapat berperan terhadap kebahagiaan dan kehidupan kita, melainkan Allah SWT. Ketika kita melakukan segala sesuatu di dunia atas dasar mendapat ridho dari-Nya, tentu saja Allah akan memberikan balasan berkali-kali lipat. Tapi sayangnya, dengan segala kenikmatan yang telah kita dapatkan sejak lahir hingga sekarang, kita masih sering menduakan-Nya dengan hal-hal duniawi, lalu merasa hal itu biasa dan wajar saja. Sejujurnya, saya jadi takut saya juga akan menjadi orang yang seperti itu. Semoga Allah senantiasa mengampuni kelalaian kita dan melindungi kita dari berbagai keburukan dunia dan akhirat.

“Di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tandingan-tandingan yang mana mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” [QS Al Baqarah: 165]

0 komentar:

Post a Comment