Thursday, March 7, 2013

Menjadi Dewasa


Assalamualaikum. Wr. Wb.
Menjadi dewasa itu terlihat sangat menyenangkan saat masih kecil. Rasanya bisa menggenggam dunia, tak akan diatur-atur orangtua lagi, bisa kemana saja sesukanya. Tapi ternyata, itu tidak seindah bayangan masa kanak-kanak. Semua tergantung bagaimana kita menghadapi dan melihat hidup ini, sih. Tapi, akhir-akhir ini ada beberapa pengalaman yang membuat saya jadi mulai tidak menyukai masa dewasa atau orang-orang yang mengaku dewasa, padahal saya sedang dalam perjalanan menuju kesana. Terlepas dari sifat dewasa, tidak semua orang yang 'kelihatannya' dewasa memiliki sifat itu ternyata.

Supir angkot berumur sekitar 40 tahun-an marah-marah sepanjang membawa penumpang yang cuma sedikit karena dilarang ngetem terlalu lama oleh Polisi Lalu Lintas. Alhasil, dia malah menurunkan penumpangnya di tengah jalan dan masih memaksa minta bayaran, bahkan nyaris menabrak salah satu penumpang yang berjalan menjauh. Ya, semakin dewasa manusia, semakin ia mengerti arti uang dan harta, dan semakin mudah diperbudaklah ia. 

Uang berhubungan dengan pekerjaan, dan pekerjaan bisa mengubah sifat seseorang. Semakin lama bekerja, semakin ia mengejar profesionalisme, dan sebagian terbawa arus keindahan dari sebuah pekerjaan, kemudian lupa bagaimana cara bersikap terhadap orang lain. Profesionalisme apa yang mereka dapat? Pernah dengar atau bertemu dengan seorang pegawai restoran yang melayani pelanggannya dengan wajah malas dan sombong karena ia telah lama bekerja dan berpikir sudah tidak penting lagi bersikap ramah pada customer biasa? Dewasakah itu?

Salah satu yang tidak saya sukai dari 'menjadi dewasa' adalah ketika saya melihat bagaimana 'orang-orang dewasa' sekarang suka sekali saling bermain sarcasme satu sama lain. Pertengkaran bukan lagi secara terang-terangan, tapi adu kata-kata halus namun mengandung unsur sindiran yang bermaksud 'menusuk' hati. Sadar atau tidak, orang dewasa lebih sulit memaafkan dan lebih lama menyimpan rasa kesal.

Semakin 'dewasa' seseorang, semakin sulit ia meminta maaf. Semakin mengerti 'nilai diri' dan menjunjung tinggi harga diri, akhirnya malah nggak tahu mana harga diri, dan mana gengsi. Yang dimahalkan bukannya harga dirinya, malah harga gengsinya. Padahal waktu kecil dulu, saya bertengkar dengan teman secara terang-terangan, mengatakan saya tidak menyukainya, tapi pada akhirnya kita bisa bermaaf-maafan secara terang-terangan. Mengikuti nasihat Guru untuk saling menjabat tangan ketika bermaafan.

Agaknya, orang-orang lupa bahwa tumbuh besar, bertambah usia, belum tentu bertambah pula kedewasaannya. Sebagian besar hanya tumbuh, bukan menjadi dewasa, tetapi menjadi mesin untuk menuruti ini dan itu, tunduk pada aturan ini dan itu. Kau tahu, ketika kau berpikir bahwa orang-orang yang lebih muda atau jabatannya lebih rendah darimu adalah orang yang nilai dirinya yang lebih rendah darimu, dan orang-orang lanjut usia hanyalah orang tua yang sudah tidak ada harganya lagi, saat itulah kamu menunjukkan bahwa kamu BELUM DEWASA.

Meremehkan orang lain adalah salah satu sikap yang menunjukkan bahwa kau belum dewasa, namun kebanyakan tidak sadar dan tenggelam dalam opini pribadi mereka yang terlalu mencintai dirinya sehingga tak mau berkembang atau belajar lagi dari yang lain.

Ya Allah, lindungi diri ini dari pertumbuhan yang membawaku pada kesia-siaan.

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

0 komentar:

Post a Comment

There was an error in this gadget