Sunday, November 7, 2010

Day #25 Mabit Nurul Fikri


Beberapa dari teman-temanku menanyakan, apa itu Mabit Nurul Fikri? Secara aku cukup sering membicarakan organisasi ini di berbagai tulisanku. Baiklah, sekarang akan kuceritakan sedetail yang aku tahu. Jadi, postingan kali ini akan jadi cukup panjang. Enjoy...

Kelas 3 SMA, aku mengikuti bimbingan belajar Nurul Fikri yg bertempat di daerah Mampang. Maklum, sudah kelas 3. Dan aku ingin mendapatkan Universitas Negeri. Dan untuk mendapatkan PTN di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Apalagi mengingat kemampuan otakku yang... standar agak kebawah -_-" ... Jelas sekali kalau aku perlu ekstra usaha.

Nah, Nurul Fikri sama saja dengan Bimbingan Belajar lainnya, tapi yg membedakan adalah keberadaan Mabit di dalamnya. Mabit, singkatan dari Malam Belajar Iman dan Takwa. Aku tahu organisasi ini dari Kakakku di angkatan 2008. Dia adalah salah satu alumni Mabit Nurul Fikri. Lalu, dia menyarankan aku untuk bergabung juga di dalamnya. Dan ternyata, banyak juga anak NF yang tertarik mengikuti Mabit. Anak-anak yg ikut Mabit bukan hanya berasal dari NF Mampang saja. Ada sebagian dari mereka yg jauh-jauh dari NF Cibubur, Pasar Minggu, Akses Depok, dan lainnya, ikut bergabung di Mabit Nurul Fikri. Whoah... Bisa kalian bayangkan berapa banyak koneksi yg akan didapat? :D

Singkatnya, aku ikut test dan lulus. Lalu mulailah pelan-pelan aku mengenal lebih dalam lagi tentang Mabit. Di Mabit terdapat 4 rombongan. A (Aroma), B (Rombeng), C (Ronceng), dan D (Rondeng). Aku masuk kelas Aroma, kelas khusus untuk anak-anak yg akan mengambil jurusan IPS di Universitas nanti. Sedangkan kelas-kelas lainnya adalah kelas untuk IPA. Aroma... Kelas yang berisi orang-orang aneh yg ternyata akan menjadi bagian penting dalam hidupku. Di Mabit, terdapat 9 Departemen. Linguistik, Matematika, Kimia, Fisika, Hayati, Ekonomi, Geografi, Sejarah, IT. Aroma dan Rombeng mendapat Departemen Linguistik untuk bulan pertama, sedangkan Ronceng dan Rondeng Departemen Matematika.

Sejak awal departemen, kelas Aroma selalu ditemani oleh dua senior sekaligus pengajar dari angkatan 2008 di hampir setiap pelajaran. Mereka adalah Kak Usman Ben Kumoring dan Kak Hendry Ma'ruf. Merekalah yang menemani Aroma hingga akhir. Merekalah sesepuh Aroma dari tahun ke tahun, huehehehe. Singkatnya, kami menjalani Mabit setiap Sabtu Minggu. Untuk hari Sabtu, Ikhwan (cowok) dan Akhwat (cewek) digabung. Kami belajar hingga jam setengah 10 malam, lalu Akhwatnya boleh pulang dan melanjutkan pelajaran di hari Minggunya pada jam yg sama. Sedangkan bagi Ikhwan akan menetap di NF, melanjutkan belajar pada jam 1 pagi sampai jam 3 pagi. Can you imagine that? Hahaha ini yang membuat Mabit berbeda. ;)

Awalnya, aku, seperti biasa, tidak banyak bicara. Lebih senang duduk di belakang dan tidak bergabung dengan teman-teman serombonganku. Yep, beginilah aku kalau baru memulai suasana baru dan bertemu orang-orang baru. Ditambah lagi, orang-orang yang ada di Mabit Nurul Fikri adalah orang-orang LUAR BIASA yang cerdas dan sangat aktif. Tujuan kami disini sama, ingin mendapatkan PTN dengan jurusan idaman. Yang berbeda dari Bimbingan Belajar lain, kami disini... Di Mabit, tidak meraih PTN sendirian, melainkan bersama. Kami belajar di Mabit, bersama-sama. Bukan sendirian. Kami HARUS saling mengajarkan satu sama lain demi mewujudkan cita-cita kami bersama. Ups, salah. Bukan kami, tapi kita. :D

Di Mabit terdapat sesuatu yg kami sebut "seleksi alam". Seleksi alam ini terjadi pada mereka yg tidak bertahan hingga akhir di Mabit, karena Mabit memang lebih berat dari Bimbingan Belajar lain. Tugas-tugas yang diberikan lebih banyak dibanding tugas sekolah, dan kekuatan mental kita juga teruji berat disini karena ujian yang Mabit lakukan di setiap akhir departemen lebih berat daripada ujian Sekolah ataupun UN. Ujian di Mabit memaksa kita untuk mengerti pelajaran, karena kita harus menjelaskannya langsung di depan pengajar Mabit dan teman-teman kita. Aku sendiri merasa cukup berat saat menjalaninya, tapi jangan jadi beranggapan kalau Mabit itu eksklusif atau hanya untuk orang-orang cerdas saja. Justru tidak. Motto Mabit sendiri: Kami tidak butuh orang pintar, kami butuh orang yang mau berusaha dan berjuang dan juga loyal.

Banyak teman-temanku di awal-awal rombongan yang akhirnya keluar dari Mabit dengan berbagai alasan: Tugasnya berat, tidak diizinkan orang tua, ingin belajar sendiri, dll. Aroma thn 2010, awalnya berjumlah 35 orang. Lalu yg tersisa di akhir Mabit bahkan kurang dari 20 orang. Lihat, bagaimana seleksi alam begitu keras? Seleksi alam juga terjadi di rombongan-rombongan lainnya. Aku bisa bertahan sampai akhir pun bukan karena aku pintar, cerdas, atau hebat. Aku merasa nyaman. Dan aku menjalani semuanya dengan santai. Segala remedial yang selalu kujalani di setiap ujian, aku jalani dengan damai saja. Toh, aku tidak sendirian. Ada banyak sekali yang harus remedial di akhir ujian, dan hanya segelintir orang yang lulus. Orang-orang yang memang dari sananya dianugerahi otak brilian. Dan segelintir orang itu bukanlah orang sombong. Justru mereka adalah orang-orang luar biasa yang bersedia mengajarkan kami semua jika kami tidak bisa. Betapa indahnya pertemanan yang membuat kita menjadi lebih baik :)

FYI, di Mabit juga terdapat kakak Asuh, yaitu para pengajar yang lebih seperti pembimbing khusus untuk kami. Dari sebuah rombongan itu, akan dibagi beberapa kelompok, lalu diberikan kakak asuh yang berbeda dari departemen satu ke departemen lainnya. Kakak asuh inilah yang akan mengajarkan kita lebih dalam lagi tentang pelajaran yang kita tidak mengerti. Yang lebih hebat lagi, kakak Asuh ini 'diharuskan' available selama 24 jam. Aku ingat, ada temanku yang pernah meminta belajar pada kakak asuhnya pada jam 12 malam. Dan kakak asuh itu mau. Betapa baiknya mereka... Mengutamakan kepentingan kita dibanding kepentingan pribadi :)

Singkatnya, kami menjalani rutinitas Sabtu-Minggu belajar, kakak asuh, dan ujian di akhir bulan, kurang lebih selama 6 bulan hingga departemen akhir. Kadang, kami jalan-jalan ke suatu tempat jika merasa jenuh belajar di NF melulu. Dan selama 6 bulan itu, aku mulai memahami sifat dan tujuan dari organisasi ini. Mabit, tak hanya membantu kami dalam meraih impian kami, tapi mereka menciptakan sebuah keluarga baru bernama Mabit Nurul Fikri. Setelah masa 6 bulan itu, kami para mabiters akan melakukan berbagai kegiatan seru sekaligus belajar. Aku tak mungkin menceritakannnya disini. Masing-masing kegiatan itu butuh postingan sendiri-sendiri ;) Yang pasti, kegiatan-kegiatan itu memaksa kami untuk saling mengenal satu sama lain. Dan tidak hanya mengenal, tapi juga menyayangi. Saling bekerja sama, membantu, dan bahkan, kami merasakan susah senang bersama di Mabit. Berawal dari rombongan sendiri, aku yang tadinya tidak dikenal untuk waktu beberapa lama di Mabit, seiring waktu mulai bergabung dengan mereka. Mereka mengulurkan tangan dan mengajak. Mereka menawarkan persahabatan dan pertemanan. Aroma, rombongan IPS dengan guru yang tidak berubah, satu dalam kesatuan karena Aroma memang hanya satu, membuat ukhuwah kami menjadi lebih erat.

Lalu, dari rombongan sendiri, kita mulai mengenal rombongan lain. Kita dilibatkan dalam kegiatan yg memaksa kami untuk mengenal semua angkatan. Di tahunku 2010, nama angkatan kami adalah Auxiliary (Adolescent Ukhuwah Extra Islamic Creative Youth) dengan motto: "Bangun, Berdiri, Berlari, Kejar Mimpi dengan Hati! Allahuakbar!" Kami selalu meneriakkan motto ini bersama-sama di setiap kesempatan, kejadian, dan hal yang kami lakukan. Dan jika kalian bisa bertahan sampai akhir, kalian akan merasakan betapa semua kenangan yg telah kita lakukan di Mabit begitu berharga. Salah satu bagian hidup yg takkan aku lupakan. :')

Sedikit sejarah: Mabit dibuat oleh Dr. Dion Firly di tahun 2002. Dia dulunya sama seperti kita, siswa NF. Lalu, dia dan dua orang temannya belajar di Mushollah NF hingga akhir malam, lupa waktu karena keasyikan belajar. Dan dari situlah, ia akhirnya sering tinggal di NF bersama kawan-kawannya, yang makin lama makin banyak, belajar hingga pagi demi meraih PTN. Dan dari sanalah terbentuk Mabit Nurul Fikri. Dimulai dari tahun 2002 dan terus berjalan hingga sekarang, semakin berkembang dengan berbagai kegiatan di dalamnya dan dijalankan oleh generasi baru setiap tahun. Para alumni Mabit yang sebagian memutuskan untuk menjadi Pengajar di Mabit Nurul Fikri dan melanjutkan perjuangan  Kak Dion. Menciptakan kisah baru bagi generasi-generasi muda dengan akhlak yg baik dan kualitas yg bermutu, insya Allah. Dan yang terpenting lagi, Kak Dion menciptakan ukhuwah dan silaturahmi di antara kami semua dari tahun ke tahun. Menciptakan suatu keluarga besar dalam ikatan persahabatan islami. Mereka, keluarga keduaku. :)

Tidak ada sesuatu yg sempurna, begitupula Mabit. Ada banyak ketidaksempurnaan, tapi aku mencoba untuk melihat dari sisi positifnya. Jika kalian masuk lebih dalam ke Mabit, kalian akan lihat bahwa banyak dari kami yang tidak sempurna dan betapa banyak masalah yg harus kami hadapi. Tapi, aku akan mengingat lagi segala yg telah Mabit berikan padaku, dan semua masalah itu insya Allah akan menghilangkan segala kenegatifanku terhadapnya. Hehehe

Quotes: Teman yang baik adalah teman yang akan membuatmu menjadi lebih baik.
I love Mabit Nurul Fikri :)

0 komentar:

Post a Comment

There was an error in this gadget