Wednesday, October 6, 2010

Day #11 Akhir dan Perpisahan

Setiap orang pasti memiliki sesuatu yg berharga dalam hidupnya. Keluarga, sahabat, pacar, bahkan hewan peliharaan. Aku pun punya. Tapi, kadang aku berpikir. Aku selalu diajarkan, bahwa tak ada yg abadi di dunia ini. Setiap awal, pasti memiliki akhir. Setiap pertemuan, pasti memiliki perpisahan. Dan sejujurnya, setiap kali aku berpikir begitu, aku merasa takut. Takut akan sebuah akhir yg aku tahu pasti akan datang entah kapan. Takut pada perpisahan yg selalu mengikuti sebuah pertemuan. Khususnya, jika hal itu terjadi kepada sesuatu yg benar-benar berharga bagiku.

Saat ini, yg berharga bagiku adalah keluargaku, sahabat-sahabatku, dan keluarga mabitku. Aku telah mengalami banyak pertemuan dan perpisahan. Seperti kelulusan sekolah, dimana kita harus berpisah jalan dgn teman-teman yg telah menghabiskan masa beberapa tahun bersama kita. Saat kelulusan SMP, aku harus berpisah jalan dengan sahabat-sahabatku Kiki, Ema, Kartika, Dianti, dan Revina. Sedih. Tentuh saja. Amat sangat. Tapi, kami masih tetap bisa saling mengunjungi satu sama lain. Perpisahan SMP itu, masih bisa kuatasi.

Saat perpisahan SMA, aku merasa jauh lebih sedih lagi, karena hubunganku dengan teman-temanku di SMA sudah terlalu dekat dan nyaman. Khususnya, karena aku dan sahabat-sahabatku sudah lebih mengerti keadaan dan perasaan. Dan bahkan salah satu dari kami harus pergi jauh ke luar kota demi menuntut ilmu di PTN yg dia dapat. Dan rasa sedih itu menjadi lebih dalam, karena kami tak lagi satu kota. Hal yg mungkin bagi orang lain biasa, tapi tidak bagiku. Tapi tidak apalah. Kami masih bisa berhubungan dan bertemu meski hanya beberapa kali setahun.

Perpisahan lainnya adalah dengan kawan-kawanku di Mabit. Di tempat ini, hanya dalam waktu setahun, aku merasakan ukhuwah yg kuat dan merasa memiliki keluarga kedua. Karena mungkin disini kami memang sama-sama berjuang dari awal hingga akhir. Dan belajar banyak hal bersama. Karena itu sangat berat rasanya saat pengumuman SNMPTN, dan mengetahui bahwa sebagian dari kami akan berpencar ke belahan bumi Indonesia yg lain demi PTN yg telah mereka dapat. Tapi, aku masih bisa mengatasi rasa sedihnya. Karena kami pasti suatu saat akan bertemu lagi.

Lalu, akhir-akhir ini aku mulai berpikir, sampai kapan semua hubungan ini akan berjalan? Apakah aku akan selamanya mencintai mereka? Apakah mereka akan selamanya menganggapku sebagai bagian dari hidup mereka? Hidup mereka tidak hanya berputar di diriku, begitupun aku. Pertemuan dengan orang-orang baru pasti terjadi. Lalu, apakah mungkin, sesuatu yg kuanggap berharga ini takkan berubah? 

Aku belum pernah mengalami kehilangan yg sesungguhnya. Semua orang yg berharga bagiku, masih hidup. Aku masih bisa melihat mereka meski tidak setiap waktu. Tapi selama mereka masih hidup, setidaknya, aku tahu bahwa aku pasti akan bertemu dgn mereka lagi. Tapi, aku mengenal beberapa orang yg telah kehilangan sahabatnya untuk selama-lamanya. Kehilangan keluarganya untuk selama-lamanya. Dan aku, takut untuk seperti itu. Sejujurnya, setiap kali aku merasakan kebahagiaan sebuah kebersamaan, saat itu rasa takut juga mengiringiku. Rasa takut dan bertanya-tanya... Bagaimana jika ini berakhir? Bagaimana jika satu persatu mereka hilang? Hidup tak akan sama. Dan aku takut dengan kehilangan. Sangat takut.

Mungkin aku berpikir telalu jauh. Mungkin aku terlalu naif. Mungkin aku lemah. Mungkin aku menyedihkan. Kita semua tahu, bahwa suatu saat semua akan kembali lagi kepada-Nya. Aku pun mengetahui hal itu dengan baik. Tapi, aku tetap takut. Karena aku benci merasa kehilangan. Dan aku, benci pada perpisahan. Kalau aku bisa, aku ingin menghentikan waktu di saat aku bersama dengan orang-orang yg berharga bagiku, dan memastikan bahwa mereka akan terus bersamaku. Selamanya. Tanpa ada akhir. Tanpa ada perpisahan.

0 komentar:

Post a Comment

There was an error in this gadget