Tuesday, September 21, 2010

Day #1 A Father

"Sepasang burung itu lalu menutup sarangnya dengan selembar daun untuk melindungi anak-anak mereka. Setelah itu mereka ikut masuk ke sarang dan saling menghangatkan diri." - Papa

Aku masih sangat ingat cerita itu. Terakhir kali Papa mendongengiku kisah keluarga burung ini adalah saat aku berumur 10 tahun. Lalu ia akan menyelimutiku, kakakku, dan adikku, setelah sebelumnya memberikan kami botol berisi susu sebelum tidur *yep, aku masih ngedot sampai umur 10 tahun* kemudian dia akan tidur disamping kami seperti ayah burung yang diceritakannya.

Setiap hari, kami bertiga tidak bosan untuk meminta pengulangan cerita keluarga burung itu. Kadang ayahku juga menceritakan kisah anak kecil yang tubuhnya sebesar jempol, lalu hidup di dalam batok kelapa. Katanya, saat ia kecil, nenekku menceritakan kisah itu kepadanya sebelum tidur.

Setiap pagi, aku, kakak, adik, dan Mama selalu mengeluh tentang banyak hal. Kadang, kami mengeluhkan tentang Papa. Kami lupa kalau setiap pagi, Papa yang membangunkan kami untuk sholat shubuh. Kami lupa, kalau Papa yang selalu mengantar kami kemanapun kami pergi, kapanpun, dengan motor tua yang sudah berkali-kali ganti mesin. Kami lupa, kalau ia bahkan yang selalu memasak untuk kami. Kami melupakan banyak hal yang ia lakukan dan hanya terus mengeluh. Ia hanya mendesah lalu tersenyum. Kalaupun mengeluh, hanya sedikit dan menyimpannya sendiri di dalam hati. Dengan sikap buruk kami yang seperti itu, ia bahkan masih menciptakan lagu cinta untuk kami.

As a father, he might be not the best. But as my father, he is beyond incredible.

0 komentar:

Post a Comment