Friday, July 23, 2010

Tentang Kadep-kadepan Ini...

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Actually, I've been busy these days. And mostly my time have been spent in Mabit Nurul Fikri
Ahh ada banyak cerita seru sebenernya, tapi ga akan cukup satu judul doang *lebih tepatnya.. Saya males =,=

Nah, beberapa hari yang lalu diadakan Dauroh Pengajar Mabit Nurul Fikri. Singkatnya, ini pelatihan buat calon pengajar baru untuk generasi Mabit 2011. Otomatis Saya yang udah *sotoy* mendaftar harus ikut dan di Dauroh itu jugalah ditentukan struktur pengajar dan jabatan-jabatan baru untuk kepengurusan Mabit 2011. Dan dari situ juga dipilihlah Kepala Departemen (Kadep) untuk masing-masing Departemen di Mabit 2011.

Dan... entah bagaimana caranya Saya dipilih jadi salah satu kadep itu, yakni Kepala Departemen Linguistik 2011. Yak... Kepala Departemen... Ketua Departemen... Pemimpin Departemen...

OH MY GODNESS... WHAT ON EART WAS HAPPENING??? I'M NOT EVEN A GOOD TALKER!! AND THEY CHOSE ME AS A LEADER? LEADER? LEADERRR...???!!!!!! =_____________="

Okay that was too much maybe... but seriously, I'm afraid. Really really afraid.

Saya udah tau dari lama desas-desus Saya akan dipilih jadi Kadep, tapi Saya pikir that was a joke atau akan ada orang lain yang jauh lebih baik yang bisa dipilih sebagai Kadep. Bukan bermaksud merendahkan diri, tapi Saya emang merasa belum cukup baik dari segi sifat, ilmu, sikap, dan akhlak untuk menjadi seorang Kepala Departemen. Apalagi Mabit. Suatu organisasi yang menurut Saya termasuk hebat dan penuh orang-orang luar biasa. Dan Saya harus menjadi kepala dari orang-orang luar biasa itu??? Oh maaaan...

Awalnya Saya mau menolak terus menerus tawaran itu karena Saya merasa takut dengan tanggung jawab yang terlalu besar. Tapi, lalu... Kak Dion, Bang Jaka, Kak Ardi, mereka mengatakan hal-hal yg meruntuhkan iman...

"Kalau kita nggak berani mengambil resiko, kita nggak akan pernah belajar. Kalau kita terus takut, kita nggak akan maju kemana-mana. Percaya deh, banyak yang akan membantu kamu. Kamu hanya harus percaya sama diri kamu sendiri. Jangan egois karena ketakutan kamu. Kamu pasti bisa. Bahkan mungkin tugas Kepemimpinan ini akan membuat kamu belajar dan justru membuat kamu menjadi orang yang lebih baik. Kamu cuma harus percaya sama diri kamu sendiri dan yakin." 

Yah, lalu Saya berpikir. Iya ya, apa Saya ambil aja tanggung jawab ini. Mungkin Saya akan bisa belajar. Saya juga nggak mau egois dan jadi cemen. Yep, that was what I thought.

Tapi lalu ada hal lain juga yg mengganggu Saya. 

"Den, this is not a movie where you can take a chance bravely and make everything through well. Lo kira segampang itu? And btw, don't forget... you're such a childish person. Pikiran lo masih dangkal. There is no way to be a leader. At least not now. Lo belum pernah jadi pemimpin dan tiba-tiba dikasih tanggung jawab besar menjadi Kepala Departemen. Itu bukan tugas main-main. Lebih efektif kalau lo belajar dari hal-hal kecil dulu, dan bukannya langsung jadi Kadep."

Yep, Saya sangat setuju dgn pikiran itu. Tapi... justru kedua pendapat itu membuat Saya bimbang dan berpikir : "Sebenernya apa sih pemimpin itu? Sebenernya apa sih yang harus Saya lakukan untuk bisa belajar? Apakah salah kalau Saya langsung mengambil langkah besar dengan menerima jabatan sebagai Kadep, padahal jadi Kakak Asuh aja masih merasa kurang." 

Tapi karena Saya udah mengambil keputusan, Saya nggak bisa menyesalinya.

TAKUT!

Saya akui itu. Saya merasakan kekhawatiran bahwa Saya belum cukup punya modal untuk menjadi pemimpin. Tapi, salahkah orang yang nggak punya modal seperti Saya berusaha untuk PD dan berani mengambil langkah besar sebagai pemimpin? Ataukah memang benar bahwa Saya harusnya menunggu dan belajar pelan-pelan untuk melalui tahap demi tahap suatu perkembangan? Apakah salah kalau Saya langsung melompati beberapa tahap perkembangan itu? Tapi, bukankah mungkin dalam proses Saya berusaha menjadi Kadep itu nanti, Saya akan belajar? Tapi apakah itu yang dibutuhkan sebagai seorang pemimpin? Bukankah pemimpin harusnya adalah orang yang udah siap dari awal dgn segala modal dan kesanggupan? 

Lalu... salahkan kalau orang yang belum cukup mampu seperti Saya menjadi pemimpin dan belajar pelan-pelan selagi menjalankan tugas itu? Ataukah sebenarnya pemimpin yang dibutuhkan bukanlah pemimpin yang masih dalam tahap belajar?

3 komentar:

Gadis said...

Chachaaaaaaa selamat ya bu kadep!

tantangan di depan kita insya Allah akan lebih besar dari pegunungan. Berat, melelahkan, mungkin aja terjadi. Tapii..... yakinlah bahwa Allah akan membantu kita di saat tersulit sekalipun. So, yakinlah bahwa kita akan bisa menjalani amanah ini dengan baik

*sok tau banget dah, padahal gw sendiri ketakutan hahahaha T.T

kholilurrahman said...

jangan takut ada gw kok. hahaha *nyampah

denisaroseno said...

@Gadis : Hahaha amin-amin *tapi elo gak meyakinkan deh Dis, bawahnya juga ikutan takut =.=* Yah kita berusaha bersama-sama ya ><

@Robie : Haha apeee dah lo?? Zonkk =,= BUT THANK YOU :D

Post a Comment

There was an error in this gadget