Thursday, December 17, 2009

Sang Pemimpi the Movie

 

Saya sudah memesan tiketnya tiga hari sebelum film ini tayang di bioskop karena Saya yakin kalau film ini akan menyedot banyak penonton seperti sequel pertamanya, Laskar Pelangi, dan Saya nggak mau sampai kehabisan tiket. Novel Sang Pemimpi sendiri memang salah satu novel favorit Saya dari serial Laskar Pelangi. Dan hari ini pun, akhirnya Saya berangkat ke Pejaten Village bareng Ema, Mara, Vina, Nanda, dan Ratma. Diantara kita, memang cuma Saya yang paling semangat. Bahkan semalaman Saya nggak bisa tidur saking nggak sabarnya pengin nonton. Saya takut kecewa, tapi juga penasaran dan punya keyakinan bahwa film ini akan memuaskan, secara dia digarap oleh Riri Riza dan Mira Lesmana. 

Film dibuka dengan Mathias Muchus yang berperan sebagai ayah Ikal sedang mengayuh sepeda kumbangnya diiringi bunyi khas sepeda tua menelusuri jalanan yang dikelilingi alang-alang dan pepohonan, serta terik matahari. Awal yang penuh makna karena kisah ini memang tentang Ayah. Lalu tiba-tiba scene berpindah ke daerah Bogor, diiringi suara Lukman Sardi sabagai narator yang juga memerankan Ikal dewasa, disini ia memulai kisahnya. Ikal dewasa digambarkan sedang putus asa dan mengeluhkan pekerjaannya sebagai Tukang Pos. Ikal tidak pernah percaya pada Tukang Pos, tapi dia malah berakhir sebagai Tukang Pos. Ada kisah tersendiri dibalik rasa tidak percayanya itu. Kisah yang membuat Saya menitikkan air mata nantinya. Saat itu, Ikal juga mengeluhkan impiannya yang terlalu tinggi, sambil memikirkan sepupunya Arai yang telah mengajaknya bermimpi setinggi ini, namun malah meninggalkannya selama tiga tahun di rumah sempit di Bogor. 

Ikal tengah putus harapan. Namun, di tengah keputusasaannya, pemandangan anak-anak SMA yang berlaria di sekitar kontrakannya membuatnya mengingat masa lalunya: dan cerita pun dimulai. Masa kecilnya dengan Arai. Dari sini hingga 2 jam kedepan adalah masa-masa dimana Saya tertawa ngakak (benar-benar ngakak) dan juga menangis haru (meski nggak sampai sesenggukan) karena Riri Riza begitu apik memvisualisasikan sebuah cerita dari buku ke layar lebar. Dan pada akhir film, saat Arai dewasa (Nazril Irham - Ariel Peterpan) mengucapkan kata terakhir, "Tapi, Kal... kita belum sampai Perancis!" 

Saya merasa sangaaaat puas. Rasa penasaran dan khawatir Saya terbayar sudah. Film ini dimulai dan diakhiri dengan memuaskan, porsi yang pas menurut Saya pribadi.

Tokoh - tokoh dalam film ini awalnya sempet bikin Saya ragu. Bisakah mereka menyamai kesuksesan akting anak-anak Laskar Pelangi yang polos dan natural? Dan ternyata mereka bisa. Dan Saya merasa cukup terhibur dan puas dengan akting semua pemain di film ini. Ayo kita review satu persatu:

Vikri Septiawan as Ikal remaja
Vikri Septiawan - Ikal Remaja : Tokoh Ikal remaja ini awalnya sempat membuat Saya ragu... apakah dia bisa menyamai kepiawaian akting Zulfanny sebagai Ikal kecil? Dan hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Meski menurut Saya, akting Zulfanny lebih meninggalkan kesan mendalam sebagai Ikal, tapi Vikri juga berhasil menghidupkan emosi Ikal remaja, dari marah, sedih, senang, penyesalan, lagi nafsu (pas dia pengin nonton film porno di bioskop), dan berbagai emosi dari lainnya. Dialog Ikal remaja tidak lebih banyak kalau dibanding Arai, meski porsi scene untuknya sedikit lebih banyak tentunya, tapi justru kemampuannya berekspresi tanpa bicara dan hanya lewat rautan wajah justru terasa sangat natural. Overall, untuk seorang pendatang baru dari Belitung yang sama sekali belum pernah akting sebelumnya, dia membawakan peran ini dengan baik.

Ahmad Syaifullah sbg Arai remaja
Ahmad Rendi Syaifullah - Arai Remaja : Tokoh Arai remaja ini juga sempat membuat Saya khawatir dan takut. Saya meragukan apakah dia bisa membawakan karakter favorit para pembaca yang merupakan jantung dari cerita ini? Arai yang penuh kejutan, penuh mimpi, urakan, cerdas, dan berbagai sifat luar biasa lainnya, bisakah seorang pendatang baru remaja dari Belitung ini membawa Arai ke layar lebar? Saya takut dia akan mengecewakan dan kaku. Dan ternyata, sekali lagi, ketakutan Saya tidak terbukti. Rendi, hampir mirip seperti Verrys Yamarno yang memerankan tokoh Mahar di Laskar Pelangi, meninggalkan kesan keunikan yang menggemaskan. Bahkan banyak yang merasa dialah Arai, sang Simpai Kramat itu. Senyum jahilnya, kata-kata penuh semangatnya, semuanya benar-benar dibawakan dengan porsi yang pas. Fakta bahwa wajahnya masih baru di dunia seni peran memberi kesan yang lebih realistis ke film ini.

Azwir Fitrianto sbg Jimbron remaja
Azwir Fitrianto - Jimbron Remaja : Tokoh Jimbron ini nggak segagap yang di bukunya, tapi secara wajah dan penampilannya, dia memang sama persis dengan yangg digambarkan Andrea Hirata di novel Sang Pemimpi. Dari akting, dia mungkin masih kalah dibanding Vikri Septiawan dan Ahmad Syaifullah, tapi dia juga nggak mengecewakan. Aktingnya sabagai orang gagap penggemar kuda yang lugu dan innocent dibawakan dengan baik dan meyakinkan, tidak terlihat kaku.  Paling tidak, cukup banyak moment dari Jimbron yang membuat penonton terpingkal dibuatnya. Keluguannya yang natural tergambar dengan baik di layar lebar..

Nazriel Irham - Ariel - Sebagai Arai Dewasa
Nazriel Irham (Ariel Peterpan) sbg Arai dewasa
Kenapa Saya langsung review ke tokoh Arai dewasa dan bukannya Ikal dewasa? Karena menurut Saya, tokoh-tokoh yang lain sudah nggak perlu di-review lagi. Akting mereka sudah pas dan cocok dengan porsinya, secara mereka adalah aktor dan aktris kawakan. Dan... tokoh Arai dewasa ini memang yang paling ditunggu-tunggu karena perannya dibawakan oleh Nazril Irham alias Ariel Peterpan (tau kan siapa? itu lho vokalisnya Peterpan yang namanya udah ganti). Semua pasti penasaran dengan akting Ariel sebagai Arai, kan? Pasalnya, tokoh Arai itu cerdas tapi jahil dan bandelnya nggak ketulungan, nggak bisa diam, tapi juga berhati emas dan jenius. Kita mau tau apakah Ariel bisa membawakan tokoh Arai yang seperti itu karena kita taunya dia tipe yang cool.

Waktu awal dia muncul di film menggantikan tokoh Arai remaja menjadi Arai dewasa, Saya memang merasa aneh. Maklumlah, biasanya Saya lihat dia nyanyi di panggung. Saya juga bertanya-tanya, apakah aktingnya akan sesuai porsi Arai yang penuh warna itu? Dan ternyata... He exceeded my expectation. Ariel tidak terlihat kaku sama sekali membawakan sifat Arai yang penuh keajaiban itu, hehe. Dan logat melayunya juga nggak kaku. Dia bisa menggambarkan Arai yang di buku dengan baik. Tentu saja aktingnya masih kalah dari Ahmad Syaifullah, tapi bukan berarti dia jelek. Tidak... Ariel benar-benar natural membawakan karakter Arai. So far... So good~

Ikal saat mengejar ayahnya
Tentang filmnya :
1. Pecinta novel Sang Pemimpi pasti tahu kalau Arai kecil suka berbuat jahil pada Taikong Hamim, guru ngaji Ikal, Arai, dan Jimbron. Nah, di film ada lho adegan dimana Arai kecil dan Ikal kecil sedang sholat maghrib. Saat waktunya bilang Amieen setelah Al-Fatihah, tokoh Arai kecil benar-benar memanjangkan kata "Aaaaaaaamiiiiiiiiieeeeen" bahkan dengan nada-nada dangdut. Yang lain sudah selesai ber-amin, Arai masih aja berteriak 'AMIN' dengan keras dan membuat Ikal langsung menoleh ke arahnya. That was hilarious!

2. Kalau di buku, Ikal dan Arai sudah bertemu sejak umur 5 tahun, maka di film, Ikal baru bertemu Arai setelah ia kehilangan Lintang. Well, lebih masuk akal sih sebagai kelanjutan filmnya, terlepas dari novelnya, mengingat keberadaan Arai nggak pernah disinggung di film Laskar Pelangi, padahal mereka sudah berpetualang bersama sejak 5 tahun.

3. Kalau di buku, suara Arai cempreng banget saat bernyanyi sampai-sampai dia harus lipsync waktu akan nyanyi buat Zakiah Nurmala, di film ini suara Arai remaja justru bagus dan merdu. Waktu dia nyanyi lagu melayu di depan rumah Zakiah Nurmala, satu bioskop ngakak. Bukan karena suaranya, tapi karena penampilannya.

5. Adegan waktu Ikal mengejar Ayahnya yang baru mengambil raport, saat nilai Ikal turun drastis karena dia sudah mulai goyah akan mimpi - mimpinya, benar-benar sesuai dengan bukunya. Dan saat adegan itu berjalan, satu bioskop hening. Nangisssss semua.

6. Ada adegan Bang Zaitun nyanyi di depan Ikal, Arai, dan Jimbron dengan ekspresi yang sangat absurd. Sulit digambarkan lewat tulisan. Kalau nonton, kalian pasti akan tau sendiri. Kocak bangeeet.

Oke segitu dulu reviewnya, ya. Semoga bermanfaat!

2 komentar:

Mentari said...

hiks....menderitalah yang kotanya gak ada 21 x huwaaaaaaaaaaaaaaaaa

denisaroseno said...

Haha tidak apalah kak kan masih ada DVDnya :D

Post a Comment

There was an error in this gadget