Thursday, November 5, 2009

SO WHAT IF YOU ARE ABRI?

Tadi siang di sekolah, seperti biasa, Saya, Putri, Dewi, dan Litha ngerumpin sebelum pelajaran mulai (atau bahkan saat pelajaran sedang berlangsung, hihi). Tiba-tiba Putri dengan semangat bilang,  


"Eh gue mau cerita dong... gue mau cerita. Dengerin guee..." dia matiin iPod Dewi dan memaksa kita fokus pada ceritanya. Yep, Putri memang sering bersikap seperti anak kecil dan agak polos. Tapi, menurut Saya, itulah yg menjadi daya tariknya, haha.

Putri cerita kalau kemarin saat pulang sekolah, dia melihat kejadian seru yang melibatkan beberapa orang ABRI dan seorang Bapak kasihan. Yep, Bapak ini kasihan bgt. You want to know why...? Keep reading.

Jadi, waktu Putri pulang naik angkot, di suatu daerah (Putri menyebutkan nama daerahnya... tapi sekali lagi Saya melupakannya) angkotnya terjebak macet. Nah, ternyata macet itu bukan karena lampu merah atau ada yang ditilang, melainkan ada kecelakaan kecil yang tak sengaja. Biasalah... everybody makes so much mistakes when they're on the way. Khilaf. Seorang Bapak berbadan besar (menurut Putri) secara tak sengaja nyerempet motor. Nah, yang diserempet itu ternyata motor ABRI yang juga sedang dikendarai oleh ABRI. Keadaan si motor ABRI beserta ABRI-nya sendiri nggak luka atau lecet sedikitpun, mungkin mereka memang sedikit shock. Tapi, si ABRI itu langsung marah-marah ke si Bapak. Si Bapak yang nabrak itu udah minta maaf, tapi si ABRI itu tetap marah-marah hingga memukul Bapak yang nggak sengaja nabrak. Yang membuat tambah panas adalah, kata Putri, teman-teman ABRI itu yang juga adalah ABRI ikutan menghampiri lokas dan bukannya memisahkan mereka, malah ikut mukulin dan nendangin Bapak itu.


WHAT THE HECK WERE THEY THINKING?

Si bapak itu diam aja dipukulin meski tampangnya udah mau nangis (ya iyalah... dia ditendang, dipukul, dan parahnya kepalanya sempet dipukul pakai helm. ITU KAN SAKIT!) Dan parahnya lagi, nggak ada yang berani menolong si Bapak. Orang-orang disitu, meski banyak, nggak ada satupun yang bermental cukup berani untuk melawan pria-pria berbaju tentara dengan pin jabatan di seragam mereka itu.

Mereka ABRI darimana sih? Kok tega banget sampe mukulin si Bapak yg nggak sengaja nyerempet. DAN YANG DISEREMPET JUGA SEHAT SEHAT AJA, BEGITUPUN MOTORNYA (emosi!). Tapi, mereka kayak kerasukan setan, tetap mukulin Bapak itu tanpa ampun. Memang kenapa kalau mereka ABRI dengan pangkat tinggi? Mereka berhak mukulin orang yang melakukan kesalahn kecil? Dimata TUHAN kita semua itu sama. Mungkin mereka pikir keren kali dilihatin banyak orang.

Seandainya Saya ada di posisi Putri saat itu, pasti Saya sudah turun dan coba melindungi Bapak itu. Bukannya sok berani. Tapi, Saya kan perempuan, siswi SMA pula, yang kalau pulang sekolah masih memakai jilbab panjang berseragam, jadi pastinya ABRI itu nggak bakal berani dong mukulin Saya. Banci banget kalau sampai menyakiti perempuan juga. 

Jangan karena merasa pangkat tinggi, terus merasa punya badan hebat, lalu jadi merasa dunia ada di tangan. Kita tetep manusia yang kalo didatangi Malaikat Izroil, nggak bakal bisa menolak kematian.

0 komentar:

Post a Comment

There was an error in this gadget