Tuesday, October 27, 2009

FOR MY DEAR COUSIN

Hollaaaaa.... Bloggers in the World *cih, no one cares~

Moment terpenting yang membuat saya super senang adalah bertemu DEBBY AMANDA, sepupu dekat saya!! Oke... memang kedengarannya biasa. Ketemu sepupu? Tapi bagi saya, ini adalah BIG DAY karena sudah berbulan-bulan lamanya sejak terakhir kali saya bertemu sepupu saya itu. Mungkin sudah setahun lebih. Bahkan saat Lebaran pun, kita nggak bisa bertemu karena ada masalah keluarga.

Debby seumuran dengan saya dan kita pernah tinggal serumah selama beberapa tahun, and it was fun. Bisa dibilang, Debby adalah sepupu terdekat dan yang paling saya sayangi. Bukannya pilih kasih, tapi Debby benar-benar terasa seperti adik perempuan bagi saya, secara saudara saya cowok semua. Debby adalah satu-satunya sepupu dari keluarga Mama yang seumuran dengan saya, bahkan susunan keluarga kita pun sama persis. Kita sama-sama anak kedua dari tiga bersaudara, dengan kakak dan adik cowok yang umurnya pun juga sama. What a cool coincidence. We're one and the same!

I've known her since we were born, she's like my bestfriend, my sister, my rival, my role model... she means so much to me. Saya nggak tau apakah dia berpikiran sama tentang saya, but it doesn't matter to me. Saya melihat dia sebagai panutan karena dia cerdas, pandai bergaul meski dia nggak ngerasa begitu, dan secara nggak sadar, dari kecil hingga sekarang, kita seperti rival. We can share our problems about our family and our private life. She is so special, a true sister.

Kita pernah menghabiskan masa kecil layaknya kakak-adik.
Kita pernah berantem sampai saling mendiamkan satu sama lain, padahal sama sepupu yang lain nggak pernah. We fought just like sister.
Dia membuat saya merasa harus bersaing dan berlomba untuk hal-hal yang baik.
Dan hanya dia satu-satunya sepupu yang selalu membuat kangen sampai ubun-ubun.

Dia adalah orang pertama yang terpikirkan saat Mama ngajak jalan-jalan dan nanya, "Mau ajak temen, nggak?"Bahkan waktu Debby tinggal di Padang untuk waktu yang cukup lama, kita tetap saling menghubungi satu sama lain. 

Everything's changed since she moved to Jakarta. Aneh... entah sejak kapan dimulainya kita jadi susaaah banget mau ketemu, padahal rumahnya bisa saya jangkau hanya dengan naik motor sebentar, tapi kesempatan untuk ketemu itu susah. Saya hanya bisa ketemu kalau Debby yang mengajak, karena kalau saya yang ngajak duluan, pasti selalu nggak bisa. Yah, itu semua karena masalah pribadi orangtua kita sebenarnya. Kita sebagai anak hanya bisa berusaha netral dan tetap menjalin silaturahmi dengan keluarga. Hingga akhirnya kapasitas pertemuan kita menjadi sangat sedikit.

I miss her. I don't know if she feels the same way, and I don't want to ask her. I'm afraid I'm the only one who miss her alone. 

Dan tadi siang setelah pulang sekolah, entah kenapa saya berkhayal ketemu Debby secara nggak sengaja pas lagi kemana kek gitu dengan harapan kita bisa ketemu. To my surprise, dia sudah ada di depan rumah dengan Mamanya. I was like... "Is it how it feels when a dream came true?" (ini serius lho). I really wanted to jump and hug her at the moment!!

Tapi, karena udah terlalu lama kita nggak ketemu, ada kecanggungan untuk ngobrol. Nggak enak juga ada Mamanya, lagipula mereka datang bukan khusus bertemu saya melainkan alasan umum yang saya lupa hehe. She looks prettier than before. Nggak kayak saya yang nggak ada perubahan. Tetap kucel, dekil, keringetan, ingusan... pokoknya beda banget. Memang beda sih ya, dari keluarga dan pola hidup aja udah beda.

Kita bertemu hanya sekitar setengah jam, setelah urusannya selesai, Debby dan Mamanya serta kakaknya, Derry, pamit pulang. Setelah berbulan-bulan kangen, hanya sesingkat ini pertemuan kita. Bahkan nggak ada sesi curhat seperti biasa? Oh well...

I miss her already.We used to visit Gramedia to buy Japanese mangas. We used to talk about anything, we shared our problems about our family's matter, and so much more. Yes... we once fought, and that was still one of our precious moments that I don't want to forget. Maybe... she just sees me as... average cousin. Not special. But.. she means so much to me. I really miss her. I love her like a sister.

0 komentar:

Post a Comment

There was an error in this gadget